Toleransi di indonesia adalah hal yang sudah seharusnya dilakukan karena pada dasarnya negara kita ini terdiri dari berbagai macam agama, suku, ras, bahasa, dan budaya. Hal tersebut menuntut kita untuk hidup berdampingan dengan berbagai perbedaan dan kondisi. Untuk itu, sebagai warga Indonesia yang berbudi pekerti luhur sudah seharusnya kita hidup rukun dan damai dengan menerima perbedaan.

Seperti halnya kisah menarik di Kabupaten Fakfak, Papua, yang menunjukkan adanya toleransi antaragama. Seperti yang kita ketahui, bahwa masyarakat Papua mayoritas nasrani dan minoritas muslim, namun hal tersebut tidak menghalangi mereka untuk saling menghargai satu sama lain.

Kabupaten Fakfak adalah sebuah kabupaten yang terletak di Papua Barat. Masyarakat di Kabupaten Fakfak memiliki kesadaran toleransi yang tinggi. Hal ini tertanam dalam semboyan “Satu Tungku Tiga Batu” yang berarti meskipun terdapat tiga keyakinan yang berbeda, yaitu Islam, Kristen Katolik dan Protestan, namun tujuannya tetap sama serta hidup damai saling berdampingan.


“Satu Tungku Tiga Batu” juga dapat diartikan sebagai persatuan di Fakfak yang tidak mudah tergoyahkan. “Batu” berarti kokoh dan tidak mudah pecah. Semua batu harus seimbang karena jika ada yang tak seimbang, maka kuali (tungku) akan jatuh dan pecah. Filosofi ini yang menjadi pegangan masyarakat Fakfak, walaupun berbeda agama, suku, ras, dan budaya namun semua bisa tetap bersatu dalam bingkai toleransi.

Implementasi dari toleransi keberagaman di Fakfak, salah satu contohnya dapat terlihat dari kehidupan Bapak Yulianus yang seorang Nasrani. Ia memiliki keponakan bernama Pak Hamsah yang beragama muslim. Meskipun berbeda agama, namun mereka tetap bersaudara dan bisa saling menghargai serta tolong menolong. Saat membangun tempat ibadah umat Nasrani, saudara Muslimnya pun tak sungkan untuk membantu.

Bapak Yulianus Gwasgwas yang merupakan Ketua Jemaat Bethel Kampung Waserat mengungkapkan “Berkaitan dengan ‘Satu Tungku Tiga Batu’, mungkin semboyan ini baru timbul, tetapi kerukunan antarumat beragama (Muslim, Kristen Katolik, dan Kristen Protestan) di Fakfak sudah terjalin sejak dulu kala. Jadi semboyan ‘Satu Tungku Tiga Batu’ ini telah tertanam dalam setiap umat, baik yang Muslim, Katolik, maupun Protestan”.

“Tungku” adalah simbol dari kehidupan sedangkan “tiga batu” adalah simbol dari 3 agama dalam satu wadah persaudaraan. Di dalam satu keluarga ada saja yang berbeda agama, namun semua orang saling menghormati.

Walaupun berbeda- beda masyarakat Fakfak tetap menyatakan bahwa mereka semua adalah satu keluarga, satu saudara tanpa memandang agamanya. Arti atau makna dari “Satu Tungku Tiga Batu” mengajarkan mereka untuk tidak pernah membedakan agama satu dengan agama lainnya.

Pola toleransi antarumat beragama ini sudah ada sejak dahulu kala. Sebelum ungkapan “Satu Tungku Tiga Batu” ini ada, masyarakat Fakfak sudah hidup rukun dan damai dengan berbagai perbedaannya serta bisa saling menghargai agamanya masing- masing. Selain itu kekerabatan di Fakfak usianya lebih tua dibandingkan agama yang dianut oleh masyarakat. Masyarakat Papua berasal dari satu rahim sehingga tidak pernah terpecah belah hanya karena adanya perbedaan agama.

“Satu Tungku Tiga Batu” merupakan penggambaran dari tiga agama yang saling berdampingan dalam satu tungku. Hal ini dapat terlihat saat umat Kristiani merayakan natal, umat Muslim pun membantu dengan mengamankan gereja-gereja. Begitupun sebaliknya, ketika umat Muslim merayakan Idul Fitri, umat Kristiani pun membantu mengamankan jalannya Shalat Ied agar berlangsung lancar tanpa hambatan. Tidak pernah ada konflik yang terjadi antarumat beragama di Fakfak. Apabila di luar kampung terjadi kerusuhan, ketua adat dan pemuka agama saling memperingatkan untuk saling menjaga kerukunan satu sama lain karena semua bersaudara.

Para pemuda dari jemaat bethel juga menjalankan program yang rutin dilaksanakan setiap tahun, yaitu menjaga masjid untuk saudara Muslim saat Shalat Tarawih. Demikian pula sebaliknya, saat sedang Paskah, saudara Muslim pun melakukan penjagaan. Hal ini dilakukan untuk menjaga toleransi antarumat beragama, sesuai prinsip/ semboyan dari Kabupaten Fakfak, yaitu “Satu Tungku Tiga Batu”.

Masyarakat Papua saling bekerja sama dan bergotong-royong tanpa melihat latar belakang agamanya, yang terpenting adalah bagaimana caranya bersikap baik dan menghargai di tengah banyaknya perbedaan. Agama tidak akan menjadi penghalang bagi siapa pun untuk saling bersahabat, karena pada dasarnya semua agama pasti mengajarkan kedamaian.

Hari Suroto yang merupakan peneliti dari Balai Arkeologi Papua mengatakan bahwa masyarakat Fakfak hampir tidak pernah terpengaruh oleh isu-isu yang terkait dengan agama.

Toleransi hidup beragama di Kabupaten Fakfak sangat kental dan sangat patut untuk dicontoh oleh daerah lain sebagai bentuk toleransi sesuai dengan Semboyan “Bhineka Tunggal Ika” di Indonesia.

Pelajaran yang dapat diambil dari sikap masyarakat Fakfak adalah semua manusia pada dasarnya sama walaupun memiliki perbedaan di beberapa bagian, seperti agama, suku, ataupun ras. Jika kita saling menghargai dan menghormati tanpa harus mengusik satu sama lain maka kerukunan akan terjalin dan masyarakat pun bisa terbebas dari konflik SARA.

Kunci lahirnya suatu kemerdekaan adalah persatuan dan toleransi. Dengan menjunjung tinggi persatuan dan toleransi maka kedamaian serta ketentraman akan lebih terjamin.

Alangkah indahnya jika semua masyarakat Indonesia menjunjung tinggi persatuan dan nilai toleransi dalam beragama. Oleh karena itu, mulai dari sekarang, mari belajar menanamkan nilai- nilai toleransi dari hal- hal kecil, seperti saling menghargai teman yang berbeda agama serta menolong siapa pun tanpa memandang suku, agama, maupun ras.

(VASTHIKA HANA SAPPHIRA/SAMANDA)