Skip to toolbar

Ah, berisik sekali. Rasanya aku baru terlelap beberapa menit. Tanganku meraba-raba kasur, mencari sumber suara. Yang bising itu adalah nada deringku, ah, ini dia. 

Si kotak berisik. Siapa yang menelpon malam-malam begini? Apa dia tak butuh istirahat? Dengan susah payah aku berusaha memisahkan kelopak atas mataku yang masih ingin menempel dengan kelopak bawah.

Sembari menyipit, aku melihat display name si penelepon. Ternyata Kara. Sahabatku. Eh? Bukannya Kara baru meneleponku semalam? Laki laki itu tak mungkin menelepon dua kali saat malam hari. Kalau begitu, ini gawat! Aku mengangkat teleponnya. Tak ada halo atau sapaan lainnya, tetapi teriakan menggelegar yang langsung memenuhi telingaku.

“GITA! BANGUN!” Teriak si penelepon begitu aku menerima teleponnya. Kalau Kara marah seperti ini, itu berarti aku telat! Ah, maksudnya,

KITA TELAT!

“Kara! Gue siap-siap sekarang ya! Tungguin!” kataku. Tanpa menunggu jawabannya, aku langsung menutup teleponnya. Jika tidak, ia akan mengomel semakin panjang. Aku langsung menyambar handuk dan segala perlengkapan dan segera bersiap. Mati aku.

Setelah selesai bersiap-siap, aku langsung keluar dari kosanku. Tidak lupa menguncinya. Aku melihat Kara dengan muka super jengkelnya berdiri dibawah pohon tempatnya biasa menunggu. Sepertinya ia sadar dengan keberadaanku dan menatapku dengan tatapan yang sangat menyeramkan seakan ia akan melahapku.

“Kok bisa sih lo bangun jam segini?” serbunya begitu aku sampai didepannya. “Ngapain aja coba?” tanyanya lagi. Tak mungkin kan aku bilang kalau aku menonton series Netflix semalaman? Bukan lagi siraman rohani yang kudapat tapi siraman kerikil. Aku hanya membalasnya dengan cengengesan kurang ajarku.

“Ck, Inimah udah pasti telat kita.”gerutunya dengan muka tertekuk.

“Maaf” kataku. Ia menghela napas dan mengambil sesuatu di box motornya.

“Belom sarapan kan, lo? Tanyanya sambil membuka kotak makanan yang tadi diambilnya. Aku hanya menggeleng. Gila. Mana sempat aku sarapan?. Ia mengambil roti berbentuk segitiga yang berisi susu dan ceres.

Sepertinya.

“Nih a” katanya lalu menyuapiku roti isi tersebut. Aku memegangnya, oh ternyata selai coklat, bukan susu. Kara mengambil helm berwarna coklat dan memakaikannya padakau, tak lupa menguncinya.

“Ayo buruan naik” titahnya sembari memukul helm yang aku pakai dan menarikku ke motor hitamnya.

Ah, sebelumnya, ini Kara. Sahabatku satu-satunya. Sejak kami memasuki masa SMA, inilah rutinitasnya. Menjemputku ke kosan, jika aku ada kegiatan klub atau organisasi, ia akan menungguku. Begitupun sebaliknya. Tapi tak jarang aku pulang lebih dulu karena Kara terlalu lama dan ia marah karena aku tidak memberi tahunya. Dan tak jarang, karena terlalu kesiangan masuk sekolah, kamipun bolos.

“Kuping lo tuh kayanya kemasukan karet ban deh, git.” ucapnya

“Eh enak aja! Ya ngga karet ban juga kali ra” balasku sambil memukul helmnya. Ia terkekeh sebentar.

“Abisnya alot bener dibanguninnya. Pernah pas itu gue ampe khawatir, gue kira lo mati” katanya “Semalem jug ague udah bilang git, abis lo tutup teleponnya, langsung tidur. Kenapa sih ga nurut?” lanjutnya. Haaah, udah pasti ini akan menjadi bahasan yang panjang. Kara akan memberiku siraman rohani. Ia akan mengomel. Tugasku? Meng-iyakan saja, masalah dilakukan atau tidak, lihat besok saja.

Kara dan aku bersahabat sejak kecil. Kami bertetangga. Sejak aku TK, aku selalu disekolahkan di sekolah yang sama dengan Kara. Kata bunda sih, biar ada yang jagain. Maklum. Aku anak tunggal. Memasuki SMA, Kara dan keluarganya pindah ke kota sebelah. 

Rumah yang lebih dekat dengan sekolah Kara. Dan, ya. Sekolah Kara adalah sekolahku juga. Tadinya aku tidak mau bersekolah di sekolah yang sama lagi. Apalagi sampai harus keluar kota. Tapi bunda sudah kelewat percaya dengan Kara. Ibu Kara juga menawarkan untuk tinggal bersamanya tetapi aku menolak.

Pasti merepotkan.

Jadi aku memilih untuk mengekos dan Kara sebagai antar jemputku. Nah, yang ini tak bisa kutolak. Lumayan, menghemat ongkos.

“Gita, lo dengerin gue kan?” ucapnnya setelah mengomel panjang lebar.

“Iya Kara, gue denger. Kuping gue masih nempel nih dua” jawabku.

Sesampainya disekolah, kami memasuki sekolah secara sembunyi-sembunyi. Sampai ada guru yang mendapati kami masih berjalan di koridor.

“Heh kalian!” panggilnya. Kami meringis dan menoleh kebelakang dan menghampiri guru tersebut.

“Abis darimana kalian? Telat?” tanyanya

“Eh pak Romli, ngga pak, ini kita abis dari uks, minta minyak kayu putih, tadi dia lemes pak, pusing” jawab Kara. Seketika aku pun mengangguk dan memasang wajah lemah lesu. Pak Romli melihatku sekilas dan langsung mempercayai apa yang dikatakan Kara.

“Oh gitu. Yaudah sana anterin” ucapnya. Kami kira kami berhasil. Ternyata keberutnungan sedang tidak berpihak pada kami hari ini. Baru saja kami membalikkan badan, untuk meneruskan jalan, pak Romli menghampiri kami lagi. Kali ini menepuk bahu Kara.

“Emang di uks tadi ada razia kelengkapan berkendara ya sampe pake helm gitu?” ucap pak Romli. Ternyata Kara masih memakai helmnya. Sepertinya ia lupa membukanya dan aku pun sama sekali tidak sadar karena tanganku lebih dulu ditarik untuk berlari.

Hukuman kami berdiri dilapangan, hormat pada sangkakala merah putih sampai jam istirahat. Sekarang sudah pukul 8.30 dan istirahat pukul 9.30. Ah pas sekali tempatku berdiri dihadiahkan sinar matahari yang menyengat. Ditambah lagi aku harus memejamkan mataku karena silaunya. Tiba-tiba terik yang kurasa tadi hilang. Aku tak lagi merasa tersengat cahaya matahari itu.

Kubuka mataku perlahan, yang ada di hadapanku sekarang adalah punggung tegap dengan bahu yang lebar dengan tinggi yang tentu lebih tinggi dariku. Kara kini berdiri didepanku. Badannya menutupi sinar matahari yang tadi menyerbuku. Padahal, tadi ia berdiri disampingku.

Dan sama halnya denganku, lelaki itupun diserbu sorot silau matahari yang panas itu. Tapi kini ia berdiri didepanku, menutupiku dari cahaya matahari.

“Ra, jam istirahat masih sejam lagi loh kurang lebih. Lo mau disitu terus?” tanyaku.

“Yaelah, tau gue. kalo lo tanya gitu, pasti gue gamau. Tapi, kalo gue balik lagi gue bakal kepanasan, terus lo juga kepanasan. Gapapa deh gue disini, kasian gue liat lo merem merem” jawabnya. Lalu ia menghela napas “Bisa aja sih gue pindah kesono yang lebih ademan. Tapi ga ah, disini ada lo” lanjutnya.

Kami terdiam sebentar.

“Makasih ya” jawabku.

“Gausah lebay” balasnya yang membuatku kesal. Sudah baik aku berterima kasih. Aku mencubit pinggangnya. Ia meringis kesakitan.

“Udah bagus gue makasih! Malah dikata lebay!” omelku

“Bodoamat” jawabnya meledek sambil menggoyangkan pinggulnya kekanan dan kekiri.

“Ih Kara!”

Akhirnya hukuman kami yang lama itupun berakhir. Berhubung ini waktu istirahat, dan teman teman perempuanku pun sepertinya telah lebih dulu pergi ke kantin, kamipun langsung menujur kantin.

“Lo cari tempat gih, gue yang pesenin” katanya.

“Ra gue beliin minum aja ya” pintaku. Kara menatapku sebentar.

“dih apaan, ga. Gaboleh. Lo kan baru makan roti” balasnya.

“Ra sebenernya gue lupa bawa duit, ini ada di kantong bekas kemaren. Goceng doang” Balasku lagi.

“Yaudah gue yang bayarin” tanpa menungguku membalas lagi, ia langsung melenggang pergi. Aku memutar bola mataku dan langsung mencari tempat untuk duduk. Tak lama, Kara datang dengan nampan yang diatasnya terdapat sepiring batagor dan dua minuman.

“Nih makan” ucapnya

“Terus lo sendiri ga makan? Ngapain maksa gue makan kalo gitu?” balasku kesal.

“Sepiring berdua ya Git, ternyata duit gue juga pas pasan, lupa bawa dompet” katanya sambil tertawa , lalu mengambil satu sendok.

“Nih” dan menyerahkannya padaku.

“Cepetan bentar lagi masuk” kami pun menyantap sepiring batagor itu. Selesai menyantap makanan berbumbu kacang tersebut, kami menuju kelas dan mengikuti pelajaran sampai bel kemenangan berbunyi.

Seperti yang kuceritakan tadi, mengantarku pulang ke kosan juga pekerjaan Kara. Maka kini aku sedang duduk diatas motor hitamnya, membelah jalanan ibukota yang rasanya tak pernah sepi.

“Git, kata ibu, bunda udah transfer tadi. Mau ngambil dulu ga?” katanya

“Yaudah” jawabku. Kami pun berhenti sebentar di sebuah minimarket untuk menarik uang yang ditransfer bunda. Setelah itu kami langsung menuju ke kosanku. Tapi, jangan harap langsung sampai begitu saja. Bukan Jakarta namanya kalau tidak macet, ya kan?. Akhirnya kamipun sampai di kosanku karena macet hari ini tidak terlalu parah.

“Awas lo jangan tidur malem lagi” ucapnya mengingatkanku.

“Yaudah kalo ga tidur malem gue tidur subuh aja” jawabku.

“Yaelah, jangan malem malem maksudnya” katanya sambil mengacak rambutku.

“Iya Kara” jawabku yang dibalasnya dengan senyuman dan acungan jempolnya.

Aku menatapnya yang semakin jauh. Entah mengapa aku pun tak tahu. Aku hanya ingin menatapnya. Tak lama, akupun masuk ke istanaku alias kosanku.

Matahari yang tadi menyengatku dengan tajamnya sepertinya sekarang sudah lelah. Ia mulai turun untuk beristirahat. Salam perpisahan darinya adalah langit jingga dengan sedikit sirat berawarna pink. Tapi tentu esok ia akan kembali. Dan kini, langitpun gelap.

Hp ku berdering. Kara meneleponku. Ini juga bisa dibilang rutinitasnya. Sekedar mengecek keadaanku. Seharusnya bunda yang melakukan ini. Tapi bunda orang yang sangat sibuk.
“Halo ra, kenapa?” tanyaku.

“Git, lo udah makan?” tanyanya.

Belum.

Rasanya nafsu makanku berkurang. Entah kenapa aku malas makan.

“Udah” jawabku bohong. Kara yang biasanya tau kalau aku berbohong, tapi kali ini ia hanya ber ‘oh’ ria disebrang sana.

“Git” panggilnya.

“Hmm?” terdapat jeda yang cukup lama.

“Gue, mau nembak nadhia” Kini aku yang terdiam. Tak tahu harus menjawab apa.

Eh? Kenapa?

“Oh, Nadhia anak sebelah?” tanyaku. Nadhia. Dia gadis yang baik. Pasti dia bisa menjaga Kara kan? tapi, kenapa aku merasakan sesuatu yang aneh?

“Iya, abis ini gue mau nembak dia lewat chat. Hahaha freak banget ya? Abisnya kalo langsung gue malu” ucapnya yang aku balas dengan tawaan renyah

“Doain gue ya Git. Lo kan sahabat gue yang paling lama, satu-satunya, ya Git?” lanjutnya dengan nada yang bersemangat. Aku bisa membayangkan wajahnya. Wajah Kara yang penuh harap. Aku terdiam lagi. Lebih lama.

“Git? Are you there?” panggilnya

“Eh? Oh! Iya. iya Kara.gue doain kok”

Gak ra, aku gamau. Tapi, kenapa?

“Makasih Gitaaaa! Harus minta restu sahabat dulu kan? keputusan besar ini mah” ucapnya. Tanpa membalas ucapannya, aku menutup teleponnya.

Nadhia, ia baik. Tapi, kenapa? Kenapa rasanya sangat berat untuk mengiyakan? Kenapa aku mau rencana Kara gagal? Kenapa? Kurasakan air mataku berkumpul dikantung mataku. Siap meluncur kapan saja.

Aku mengambil teleponku, hendak menelepon Kara untuk berkata jangan. Jangan chat Nadia. Jangan nyatakan perasaan kamu. Jangan.

Sungguh, aku sama sekali tidak berharap apa yang diharapkan oleh Kara. Sama sekali.

Eh?

Tunggu dulu.

Memang.

Aku ini.

Siapa?

Karya: Cacak

Illustrasi: Hipwee.com

Apa perasaan kamu?
+1
1
+1
0
+1
4
+1
1
+1
0
+1
0
+1
0